Inilah Ciri-Ciri Anak Kritis

Sebagai orang tua, janganlah bosan menjawab pertanyaan dari si buah hati. Komunikasi intensif akan mengasah daya kritis mereka.

Daya kritis akan menumpul jika seorang anak bertanya, tapi tak ditanggapi orang tua maupun orang dewasa di sekitarnya. Pertanyaan dari anak sebaiknya dijawab sesuai dengan kemampuan berpikirnya. Selain itu, buatlah dia tergelitik dengan apa yang ditanyakan. Misalnya, jika anak bertanya, "Dari mana saya berasal?", orang tua bisa menjawab, "Dari perut ibu. Adi pernah lihat perut Tante Lita yang gemuk,kan? Di perutnya itu ada adik".

Semakin sering orang tua mengajak anak berdialog, akan membuat buah hati semakin kritis. Jiwa yang kritis akan menjadikan anak tumbuh menjadi pribadi cerdas dan pemberani. Namun, orang tua harus bijak mengarahkan agar potensi terarah dengan baik. Berikut ciri-ciri anak kritis:

(1) Memiliki kemampuan berkomunikasi
Kemampuan berkomunikasi anak kritis cukup baik, bicaranya cukup jelas, dan mampu menganalisis. Kemampuannya dalam menganalisis menyebabkannya tidak menerima begitu saja apa yang dikatakan orang tua, orang dewasa, atau orang yang lebih tua darinya. Namun, anak yang suka bertanya, belum tentu anak yang kritis. Seorang anak yang gemar bertanya, tapi hanya mengulang pertanyaan tanpa bertanya lebih mendalam, bukanlah anak kritis.Anak yang kritis tak sekadar bertanya, tapi juga membutuhkan penjelasan lebih lanjut.

(2) Memiliki kepercayaan diri tinggi
Anak yang kritis memiliki kepercayaan diri tinggi. Misalnya, ia tidak takut pada orang baru, bahkan berani menanyakan hal-hal yang membuatnya penasaran. Untuk meningkatkan rasa percaya dirinya, orang tua dan orang dewasa di sekitarnya perlu memberikan penghargaan pada apa yang ia lakukan.

(3) Kadang tidak sopan
Karena memiliki rasa percaya diri yang tinggi, anak akan berani bertanya tentang segala sesuatu yang dilihat dan didengarnya pada orang yang lebih tua. Biasanya, jika dilarang, anak yang kritis akan balik bertanya,"Mengapa dilarang?" Kadang, anak dinilai tidak sopan bila menanyakan hal-hal yang bagi orang dewasa tabu untuk ditanyakan.
Misalnya,"Mengapa Tante gemuk sekali?" Anak tentu tidak tahu bahwa pertanyaan tersebut bisa menyinggung perasaan orang yang ditanya.Karena itu,agar anak pemberani tapi tetap sopan, jelaskan kepadanya tentang hal-hal yang bisa menyakiti hati orang lain dan menghargai orang lain.

(4) Memiliki kemampuan bahasa dan rasa yang baik
Karena banyak bertanya dan mendengar, anak kritis akan semakin mampu mengucapkan apa yang ia pikirkan. Pengutaraan tentang apa yang ia pikirkan ini tentunya juga akan membuat ia dengan sengaja berinteraksi dengan orang lain.
Kemampuan bahasa juga akan semakin banyak diperoleh ketika ia sudah sekolah, lewat buku, guru, dan teman-temannya.Tapi, bukan berarti ia akan berhenti bertanya, karena bisa jadi pertanyaannya akan semakin seru.Dalam mengembangkan daya kritis anak,orang tua harus sering mengajaknya bicara.

(Okezone/SINDO)
View Archive